Review Movies; Spiderman Far From Home
Sumber; greenscene.co.id
Sebenarnya ane udah cukup telat dalam membahas film ke 23 dari Marvel studio ini, krena di Indonesia sendiri film ini sudah dirilis pada tanggal 2 july 2019. tapi entah kenapa ane sangat gatal sekali untuk menuliskan ulasan terkait film Marvel yang cukup funny ini, mau tahu lebih banyak terkait film ini? lets check this down Geeks.
sinopsis
Sumber; The Irish times
Spider-Man: Far from Home menjadi kolaborasi Marvel Studios dan Sony Pictures yang menyegarkan untuk ketiga kalinya( paling pertama di Civil War dan kedua baru di Homecoming). Sesuai dengan judulnya, kalian akan disuguhkan kisah liburan Peter Parker setelah peristiwa “ the blip” alias Decimation oleh Thanos.
Ketika dunia kembali normal setelah peristiwa di Endgame, Peter Parker kembali ke sekolah dan akan melakukan liburan musim panas bersama teman-teman sekelasnya. Misinya hanya ingin mengungkapkan perasaan cintanya kepada MJ.
Sayangnya, dimana pun dia pergi, monster-monster selalu mengikutinya dan membahayakan orang-orang terdekatnya. Dibantu oleh Mysterio, Peter pun percaya Mysterio bisa gantikan Avengers di dunia.
Review
Kembali digarap oleh Jon Watts setelah Spider-Man: Homecoming (2017), kalian akan disuguhkan kisah menyenangkan ala drama remaja dalam balutan nuansa superhero. Bukan kisah yang berat, terlebih, jika kalian udah bisa nebak alur ceritanya karena sudah baca komiknya.
Berangkat dari sebuah skrip yang ditulis kembali oleh Chris McKenna dan Erik Sommers, Watts dan timnya dengan riang mengeksplorasi apa yang terjadi lima tahun setelah jentikan jari Thanos yang menentukan dan bagaimana dunia membentuk kembali dengan cara-cara manusiawinya.
Film blockbuster ini bisa dibilang bikin Watss dalam posisi sulit dalam mengarahkan film. Soalnya, enggak hanya menempatkan Spider-Man di tempat penting MCU setelah jentikan jari Thanos, tapi juga soal kisah personal Peter Parker.
Tawa terus menghiasi bioskop di seperempat film pertama. Hal yang bikin kalian berharap film ini adalah komedi romantis. Gagasan konyol Peter tentang liburan di Venesia dan Paris dan curi-curi pandang ke MJ jadi hal fantasi remaja cowok yang bikin kalian tersipu.
Film Spider-Man: Far from Home berikan pemandangan baru, meski enggak bisa menyamai kesuksesan yang terinspirasi dari pendahulunya dan masih merujuk referensi komik.
Sumber; seleb.tempo.co
Sisi emosionalnya juga lebih natural dan lebih otentik mewakili cinlok, kelabilan, dan gairah para remaja, meski sering kalah oleh kenaifan dan kurangnya pengalaman hidup mereka.
Adegan aksinya pun lebih maksimal dibandingkan dengan film pertamanya. Aksi yang berskala monster tampil amazing, tapi tetap membuat karakter utama enggak kehilangan pamornya.
Mirip film petualangan yang mempertahankan tingkat fokus yang presisi terhadap detail dalam tiap ketukan aksi. Sehingga, penonton enggak kehilangan mood dan terus menatap layar sampai film selesai.
Tom Holland dengan mudah jadi aktor terbaik untuk memerankan Peter Parker. Meskipun dia berusia 20 tahunan, Holland masih menarik jadi anak sekolahan. Holland bisa menggambarkan Peter Parker yang makin dewasa, jadi pendiam, lalu buat kesalahan besar, tapi harus penuhi tanggung jawabnya sebagai Avengers dan pelajar.
Zendaya mendapat banyak momen dan interaksi karakter yang luar biasa. Dia juga mendapatkan beberapa dialog terbaik dalam pengungkapan cerita, hingga ada chemistry nyata antara Zendaya dan Holland.
Jake Gyllenhaal sebagai Mysterio jadi penjahat yang patut diperhitungkan di SonyUniverse of Marvel Characters. Kalau enggak terbantu dengan desain produksi dan CGI maksimal, tampaknya dia akan jadi villain yang mudah untuk dilupakan. Namun, Gyllenhaal memberikan Mysterio kombinasi karisma tersebut.
Baca Juga
Baca Juga
Angourie Rice sebagai Betty dan Jacob Batalon sebagai Ned sukses jadi scene stealer. Begitu juga dengan Jon Favreau sebagai Happy Hogan dan Marisa Tomei sebagai Bibi May. Peran mereka diperluas enggak hanya jadi teman sekolah Peter, tapi jadi bahan tertawaan kalian karena romansa labilnya.
Sebenarnya, Spider-Man: Far from Home juga harus berfungsi sebagai ekstravaganza aksi, meski lebih baik dari film pertamanya. Sayangnya, hanya sebatas bagus, bukan luar biasa.
Sumber; Tirto
Secara visual, film ini melampaui Homecoming dalam skala, realisme, dan scoring, terlepas dari VFX, ya. Warna cerah seperti nuansa remaja, mengingatkan kita pada kesetiaan sumber buku komiknya.
Satu masalah dengan superhero blockbuster adalah adegan pertarungan klimaksnya cenderung menggantikan pemain fisik dan lokasi aktual dengan CGI, sehingga menjauhkan penonton dari aksi nyata.
Namun, dalam Spider-Man: Far from Home, kita berulang kali diingatkan bahwa adegan-adegan tersebut palsu. Bahkan yang bikin terpukau, pas kalian sadar bahwa semuanya bagaikan tumpukan ilusi dari kru maupun dari alur cerita yang semuanya dimasak di komputer.
Nah, saking menyenangkannya, film Spider-Man: Far from Home layak untuk dinonton berkali-kali. Hanya untuk membiarkan kalian menemukan detail-detail keren di set-piece CGI dari komik atau film terdahulunya.
Hanya saja, bagi kalian yang mengharapkan film Spider-Man: Far from Home sebagaimana sebenar-benarnya film manusia laba-laba, tampaknya bakal kecewa.
Sebaliknya, jika kalian menaruh standar film ini layaknya film solo superhero lain, kalian akan setuju bahwa film penutup fase 3 ini enggak mengecewakan.
Wajar jika selera film superhero kita makin tinggi, karena kita udah disuntik film superhero yang menggelegar, lalu pas nonton film Spider-Man: Far from Home rasanya nanggung banget.
Film dengan klasifikasi “Semua Umur” ini bisa kalian tonton pas banget di musim liburan. Film Spider-Man: Far from Home sudah tayang sejak 3 Juli lalu.
Oh ya, ada dua adegan post-credit yang akan membelalakkan mata kalian. Kalau sudah nonton, bagikan pendapat kalian di kolom komentar yang ada di bawah artikel ini, ya.
Produksi; Marvel Studio & Sony Picture
Genre; Drama, Action, Adventure
Pemain, Tom Holand, Zendaya, Marissa Tomei, Jake Gylenhall
Sutradara; John Watts
Rilis; 3 July 2019
Skor; 8,5/10




0 komentar